Inti dari gerakan ini adalah pelaksanaan Sosialisasi Program Magrib Mengaji yang menyasar para orang tua di lingkungan sekitar. Dalam sosialisasi ini, tim dari Sirojul Ummah memberikan pemahaman mengenai pentingnya waktu magrib sebagai waktu emas (golden time) untuk berkumpul dan menanamkan nilai-nilai agama kepada anak. Orang tua diajak untuk mematikan televisi dan gawai sejenak, lalu mengarahkan anak-anak mereka menuju tempat-ajaran mengaji terdekat. Fokus utamanya adalah memberikan kesadaran bahwa pendidikan agama bukan hanya tanggung jawab sekolah formal, melainkan dimulai dari pembiasaan rutin di lingkungan tempat tinggal setiap harinya.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan masyarakat Di Kampung. Melalui sosialisasi yang komunikatif, para tokoh masyarakat dan guru ngaji kampung diajak untuk bersinergi dalam menyusun kurikulum mengaji yang menyenangkan dan tidak membosankan bagi anak-anak. Selain belajar membaca huruf hijaiyah dan tajwid, program ini juga diisi dengan kisah-kisah keteladanan para nabi dan praktik ibadah harian. Hal ini bertujuan agar anak-anak tidak merasa terbebani, tetapi justru merasa senang karena bisa belajar bersama teman-temannya dalam suasana yang penuh kekeluargaan dan harmoni. Kampung pun menjadi lebih hidup dengan lantunan ayat-ayat suci setiap harinya.
Pentingnya gerakan Magrib Mengaji ini juga dikaitkan dengan upaya perlindungan anak dari aktivitas luar rumah yang kurang produktif pada malam hari. Dalam Sosialisasi Program Magrib Mengaji, ditekankan bahwa dengan mengaji, waktu luang anak-anak terisi dengan kegiatan yang bermanfaat bagi pembentukan akhlak mereka. Sirojul Ummah juga memberikan bantuan berupa perlengkapan mengaji dan buku-buku bimbingan bagi mushola-mushola yang memiliki keterbatasan sarana. Sinergi ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung aktivitas religius warga agar tercipta lingkungan yang aman dan positif bagi tumbuh kembang anak-anak di kampung.
Dalam program Harmoni ini, para remaja masjid juga dilatih untuk menjadi asisten pengajar atau mentor bagi adik-adik mereka. Hal ini bertujuan untuk menanamkan jiwa kepemimpinan dan rasa memiliki terhadap tradisi kampung. Sosialisasi ini menekankan bahwa masa depan kampung yang damai dan tenteram ada di tangan generasi muda yang taat beragama dan berpendidikan. Dengan adanya kaderisasi ini, program Magrib Mengaji diharapkan dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan tanpa bergantung pada pihak luar sepenuhnya. Inilah esensi dari pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai kearifan lokal yang religius.