Program ini mengusung semangat untuk Perang Lawan Sampah yang menyumbat aliran air. Fokus utama dari aksi ini adalah membersihkan limbah non-organik yang sulit terurai secara alami. Para siswa, guru, dan karyawan sekolah bahu-membahu menyisir tepian dan aliran sungai untuk mengangkat tumpukan kotoran yang telah lama mengendap. Langkah ini diambil karena kesadaran bahwa sungai yang bersih adalah cermin dari peradaban masyarakat yang maju dan peduli terhadap kesehatan lingkungan.
Masalah utama yang ditemukan di lapangan adalah dominasi Sampah Plastik yang volumenya sangat besar. Plastik yang tidak dikelola dengan benar akan pecah menjadi mikroplastik yang berbahaya jika masuk ke dalam rantai makanan manusia melalui ikan yang mengonsumsinya. Melalui aksi ini, SMK Sirojul Ummah ingin memberikan pesan kuat kepada masyarakat bahwa sungai bukanlah tempat sampah yang panjang. Penggunaan plastik sekali pakai harus mulai dikurangi dan sistem pengelolaan sampah rumah tangga harus dibenahi agar tidak berakhir di aliran sungai.
Kegiatan Bersih Sungai ini dilakukan secara periodik untuk memastikan hasil yang maksimal. Selain mengangkat sampah secara fisik, tim Perang Lawan Sampah sekolah juga memasang papan peringatan dan edukasi di beberapa titik strategis sepanjang bantaran sungai. Edukasi ini bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat agar lebih menghargai keberadaan air. Tanpa adanya perubahan perilaku di tingkat masyarakat, aksi pembersihan sekeras apa pun hanya akan menjadi kegiatan yang sia-sia karena sampah akan terus berdatangan kembali.
Bagi para siswa SMK Sirojul Ummah, kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari pendidikan karakter yang menekankan pada nilai-nilai gotong royong dan tanggung jawab lingkungan. Mereka melihat langsung betapa buruknya dampak egoisme manusia terhadap alam. Rasa lelah saat mengangkat beban sampah tergantikan dengan rasa puas ketika melihat aliran sungai mulai tampak lebih jernih dan lancar. Pengalaman ini membentuk mentalitas mereka untuk menjadi agen perubahan di lingkungan rumah masing-masing, mendorong gaya hidup minim sampah dan pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab.
Dampak dari gerakan ini mulai dirasakan dengan berkurangnya genangan air saat hujan turun dengan intensitas tinggi, karena saluran air tidak lagi terhambat oleh sumbatan sampah. Ekosistem sungai pun perlahan mulai membaik, ditandai dengan kembalinya beberapa jenis ikan kecil yang sebelumnya menghilang akibat air yang terlalu tercemar.